Liputan6.com, Jakarta - CEO OmniVR, Nico Alyus, meyakini teknologi Virtual Reality (VR) akan semakin diadopsi di dunia, termasuk Indonesia. Ia memperkirakan dibutuhkan lima hingga 10 tahun sampai penggunaan VR benar-benar optimal.

"10 tahun lalu ada omongan orang Indonesia tidak mungkin belanja online, tapi sekarang banyak offline yang tutup. Kita tidak bisa membayangkan sesuatu yang sangat dini, karena bisa jadi 10 tahun kemudian menjadi sesuatu yang normal," tutur Nico dalam acara konferensi pers The NexDev Summit 2019 di Jakarta, Selasa (3/11/2019).

Penggunaan teknologi dan perangkat VR akan bisa optimal jika bisa saling menghubungkan orang-orang ke dalam dunia virtual. Misalnya belajar bersama dan berkencan.

Kemudian dari sisi perangkat, ukurannya juga lebih kecil. Ia tak menutup kemungkinan perangkat VR suatu saat bisa seukuran kacamata.

"Semua orang dengan perangkat mereka berusaha lebih sosial, tapi dengan alat VR yang ada kita justru terputus. Itu sebabnya VR tidak akan besar dalam waktu dekat ini. Sampai ketika VR justru bisa menghubungkan orang secafa realtime, maka itu akan menjadi titik poin V, " jelasnya.

Untuk saat ini, Nico berharap teknologi 5G akan bisa segera diimplementasikan di Indonesia. Pasalnya, layanan VR membutuhkan konsumen data yang sangat besar, dan itu bisa diberikan oleh 5G.

"Salah satu masalah terbesar dengan VR adalah konsumsi datanya luar biasa. Kami, para devoper VR sangat mengharapkan dan menunggu 5G menjadi sesuatu seperti 4G sekarang, semua orang bisa pakai dan akses. Kami tahu mungkin 5G baru akan dua atau tiga tahun terimplementasi dengan baik di Indonesia," ungkap Nico.