Banjir rob yang terjadi selama 20 tahun terakhir telah menenggelamkan dua dusun di Demak, Jawa Tengah, membuat lebih dari 200 kepala keluarga terpaksa pindah. Namun keluarga Pasijah memutuskan bertahan.

Perempuan paruh baya yang akrab disapa Pasijah itu mengayuh dayung sampan yang selama beberapa tahun terakhir dipakainya untuk bepergian.

Air laut yang mengepung rumah membuatnya harus menggunakan sampan ke mana pun, bahkan ketika sekadar harus ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari, serta mengantar anaknya ke sekolah.

Keluarga Pasijah adalah satu-satunya keluarga yang bertahan di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Demak, Jawa Tengah.

Abrasi yang terjadi selama 20 tahun terakhir telah menenggelamkan dua dusun di Desa Bedono yang membuat lebih dari 200 kepala keluarga terpaksa pindah.

"Desa ini dulunya dikelilingi sawah. Saya di sini juga menanam padi dan jagung. Tapi rob datang terus menerus, akhirnya dibuat tambak. Tapi rob semakin parah sekarang malah jadi laut," ujar Mak Jah, panggilan akrab Pasijah.

Sejak tahun 2001, banjir rob menjadi langgangan pesisir Demak yang berdekatan dengan ibu kota Jawa Tengah, Semarang. Namun akhirnya, banjir yang biasanya menerjang setahun sekali, lambat laun menjadi banjir permanen.

Pada tahun 2004, air laut mulai menggenangi desa. Hingga akhirnya dua tahun kemudian, seluruh warga dusun tempat tinggal Mak Jah, terpaksa pindah.

"Tahun 2005 ada unjuk rasa [menuntut relokasi], tahun 2006 sedikit demi sedikit warga mulai pindah hingga tahun 2010 sudah kosong, tinggal saya saja. Sendirian, tidak ada temannya," tutur Mak Jah.

Laut yang dulunya berjarak sekitar empat kilometer dari rumahnya pun perlahan-lahan menggenangi rumahnya.

Teras depan rumah yang terendam air membuatnya harus menyesuaikan tata letak rumahnya. Ruang tamu dia jadikan kamar tidur sementara pintu belakang dan dapur, kini jadi pintu masuk ke dalam rumah.

Mak Jah mengaku terpaksa meninggikan lantai rumah tiga kali agar tak tenggelam.

"Saya tinggikan sendiri. Saya pakai perahu ke rumah-rumah, cari pecahan tembok yang sudah dipakai. Saya izin ke yang punya rumah. Kalau nggak diizinkan saya tidak ambil," kata dia.

Dengan kondisi rumah yang dikepung air laut, setiap hari Mak Jah harus berjibaku dengan air pasang yang selalu menerjang sejak petang hingga tengah malam.

Suatu kala, air laut pasang hingga mencapai tempat tidurnya, membuatnya terbangun dalam kondisi basah kuyup di tengah malam.

"Bantal basah semua, kemambang (terapung)," ujarnya sambil membayangkan pengalamannya itu.

"Kapok, amben-amben terus didhuwurke (tempat tidur lalu ditinggikan)," imbuhnya.

Kendala ekonomi menjadi faktor utama keluarganya bertahan di rumah itu.

Mata pencaharian Rohani, suami Mak Jah, sebagai nelayan disebut hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, keluarga Mak Jah membantu pembibitan mangrove yang ditanam di sekitar rumahnya.

Dia mengaku sudah menanam puluhan ribu mangrove, bekerja sama dengan perguruan tinggi di Semarang dan Dinas Lingkungan Hidup Demak.

"Saya bertahan di sini, meski tidak punya uang, tidak bisa makan, ya seadanya. Nyatanya sudah tidak bisa minta bantuan ke teman atau tetangga," kata dia.

Namun, Mak Jah mengaku merasa terpanggil untuk merawat desanya dengan menanam mangrove di lokasi di mana dulu dusunnya berada, meski tak ada orang lain yang bertahan di desa itu.

Panggilan itu yang kemudian membulatkan tekadnya untuk bertahan di rumah itu.

"Saya tidak ingin pindah. Sudah diniati di sini, kami tinggal di sini," tuturnya berkukuh.

Mereka yang "terusir" karena terancam tenggelam

Demak mengalami perubahan garis pantai hingga 5 km ke arah darat akibat abrasi.

Akibatnya, pada tahun 2006 sebagian besar rumah milik 206 KK di Desa Bedono mulai terendam air. Setelah warga menuntut relokasi, mereka dipindahkan ke desa lain di Kecamatan Sayung, termasuk perempuan paruh baya bernama Maryati.

Maryati yang berusia 53 tahun itu mengatakan bahwa genangan air laut telah membuat lapuk dinding rumahnya yang terbuat dari papan. Imbasnya, hampir setengah rumahnya rusak.

"Bagian belakang rumah sudah rusak kena ombak. Dinding yang terbuat dari papan sudah rontok," tuturnya.

Khawatir anaknya yang kala itu masih kecil akan terdampak banjir laut. Dengan sedikit bantuan material yang diberikan pemerintah daerah, dia membangun rumah yang berjarak sekitar 5 km dari rumah sebelummya.

Senada, kekhawatiran banjir laut yang kian tinggi juga menjadi alasan Muningsih dan keluarganya untuk pindah dari Rejosari.

"Kalau rob masuk rumah, air bisa menggenangi rumah."

"Saya jadi takut, lalu saya minta pindah. Sebenarnya tidak punya dana, lalu cari pinjaman uang dan bangun rumah," ujarnya.

'Lebih dari 100 desa terancam tenggelam'

Pekalongan dan Demak merupakan salah satu daerah di pesisir Indonesia yang terancam tenggelam. Penurunan muka tanah, ditambah dengan pemanasan global menjadi penyebab utama potensi tenggelamnya pesisir Indonesia.

Peneliti Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas menuturkan kenaikan permukaan air laut di Indonesia (sea level rise) akibat pemanasan global diperkirakan sekitar 3 - 8 milimeter per tahun.

Sementara, penurunan muka tanah (land subsidence) diperkirakan sekitar 1-10 sentimeter per tahun. Bahkan, di beberapa tempat seperti Pekalongan dan ibu kota Jakarta, perkiraan penurunan muka tanah mencapai 15 hingga 20 sentimeter.

"Di Jawa lebih dari 100 desa kena dampak," ungkap Heri.

Merujuk data Road Map Land Subsidence yang dirilis Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi pada 2019, luasan area terdampak banjir rob di Pantai Utara Jawa mencapai 11.400 hektar dan abrasi (erosi pantai) mencapai sekitar 5.000 hektar.

Diketahui bahwa Pekalongan dan Demak merupakan dua kota yang mengalami banjir rob dengan luasan paling besar.

Pekalongan, 'salah satu kota dengan laju penurunan muka tanah tercepat di dunia'

Peneliti Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas menuturkan penurunan muka tanah terutama terjadi di daerah anglomerasi, pesisir yang banyak orangnya.

"Yang cepat potensi tenggelam Pekalongan.

"Pesisir Pekalongan di situ memang orang sudah banyak, terutama banyak nelayan, petani, masyarakat menengah ke bawah. Sekarang sudah terimbas oleh banjir laut ini," imbuhnya.

Pekalongan di pesisir utara Jawa Tengah, mengalami penurunan tanah sekitar 1-20 sentimeter setiap tahunnya.

Pada tahun 2018, tercatat 31 persen wilayah daratan Pekalongan telah tergenangi air laut secara permanen.

Lahan yang dulunya sawah dan kebun, kini banyak dimanfaatkan sebagai tambak ikan.

Salah satu warganya, Sisriati, terpaksa meninggikan lantai rumahnya hingga satu meter.

Imbasnya, jarak antara lantai dan langit-langit rumah semakin pendek.

"Kalau berjalan [di dalam rumah] harus hati-hati, kalau nggak hati-hati ya kejegluk (terbentur). Tamu-tamu juga sering kejegluk soalnya ini kan sudah mentok, nggak bisa ke atas lagi wong atasnya sudah rapuh," tuturnya.

Sisriati memilih bertahan tinggal di sana meski rumahnya terus ambles dan sumber penghasilannya menghilang.

"Dulu sebelum ada rob sekitar sawah itu masih bisa ditanami sebelum jadi tambak. Jadi kehidupan di sini dulu tercukupi ekonominya. Menanam padi juga masih bagus penghasilannya bagi para petani."

"Tetapi sekarang banyak yang menganggur," jelasnya.

'Impian saya, jadikan area bebas yang kita hijaukan'

Banjir rob yang datang setiap tahun di Pekalongan, adalah alasan utama dibangunnya tanggul pengendali ombak di kota tersebut.

Proyek ini menelan biaya hingga Rp500 miliar. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyediakan sejumlah pompa air berkapasitas 2.000 liter/detik.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, ketika awal tanggul itu dibangun, dia mengaku sulit sekali mendapat dukungan dari masyarakat yang menuntut ganti rugi.

"Pada saat peralatan berat mau masuk [ke area proyek], ternyata dicegat orang. Selalu begitu sampai akhirnya sekarang sudah mulai kelihatan tanggulnya," ungkap Ganjar.

"Kurang lebih 22.000 KK bisa diselamatkan," akunya.

"Tahap berikutnya adalah kita menyiapkan rencana berikutnya. Tapi kalau tidak, saluran-saluran air harus diperbaiki."

Dia mengatakan, pemerintah masih mencari solusi jangka panjang untuk permasalahan tata ruang serta ekonomi wilayah terdampak.

"Kalau impian saya, dibebaskan, tidak untuk perumahan, tidak untuk industri, biarkan mereka menjadi area bebas yang kita hijaukan kemudian kita tanam sesuatu yang bisa menahan, antara lain mangrove atau barangkali di beberapa pantai itu cemara udang. Tapi, mahal sekali dan mereka belum tentu mau," ujar Ganjar.

"Tapi kalau menunggu alam dan kondisi tiba-tiba membaik dan airnya surut, itu seperti menunggu Godot. Tidak akan pernah datang," cetusnya.

Tulisan ini merupakan bagian dari laporan seri tentang Pesisir Indonesia yang terancam tenggelam di situs BBC News Indonesia. Anda juga bisa menyimak kisah ini di Siaran Radio Dunia Pagi Ini BBC Indonesia.

Produksi visual oleh Anindita Pradana dan grafis oleh tim jurnalis visual East Asia BBC News.